skip to Main Content
Era Milenial Koperasi Bergeser

Era Milenial Koperasi Bergeser

Koperasi saat ini memang telah terjadi pergeseran. Di era milenial banyak sekali masyarakat dan pelaku usaha yang meninggalkan koperasi.

Padahal kita meyakini kalau koperasi dikelola dengan baik bisa menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat.Dengan asas kekeluargaan dan gotong royong pas dengan koperasi. Undang-undang jelas, maka ini sebuah tantangan agar segera disikapi.

Demikian dikatakan Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman pada acara Peringatan Hari Koperasi ke 71 tahun 2018 di Gedung PPKT jln Moh. Hatta Kota Tasikmalaya, Sabtu malam (21/7/2017).

Budi menambahkan di luar negeri, Jepang, Jerman Koperasi bisa dominan dalam perekonomian. Industri dan mall mall besar yang memiliki koperasi.

“Kami ingin bagaimana kekuatan koperasi hadir kembali di negara inj, termasuk di Tasikmalaya,” ujar Budi Budiman.

Budi menambahkan di Tasikmalaya dulu ada industri tekstil dikelola koperasi. Tapi kini tinggal nama, aset disewakan.Koperasi ada, tetapi tidak terlalu aktif.Karena itu, pihaknya juga menginstruksikan agar koperasi koperasi yang tidak melakukan RAT dihapus saja.

“Kita akan fokus pada koperasi yang benar benar profesional, ujar Budi.

Dulu jumlah koperasi mencapai 761. Sekarang tinggal 321 koperasi. Jadi ada 352 koperasi dihapus.

Budi menambahkan, bahwa dengan asas kekeluargaan dan gotong royong, koperasi bisa membantu perekonomian masyarakat. Selain, juga bisa membantu masyarakat yang terjerat rentenir.

Budi juga yakin, koperasi juga menjadi soko guru ekonomi yang kuat. Saat terjadi, krisis moneter, koperasi tetap eksis, karena tidak terpengaruh suku bunga.

Maka, sekali lagi Budi mengajak untuk kembali membangkitkan koperasi.Namun Budi juga mengingatkan agar bisa menjadi koperasi yang baik harus dikelola dengan profesional. Tak hanya pengurus tetapi pengawas juga harus profesional.

Sementara Prof Dr. Ali Anwar Yusuf Ketua Bidang Pendidikan & Pelatihan Dekopinwil Jawa Barat mengatakan, di Tasikmalaya di Monumen koperasi PKKT ini, selain tempat pertama kali dilakukan konggres koperasi, juga sebagai cikal bakal lahirnya soksi (serikat koperasi Indonesia) yang sekarang dengan nama Dekopinda.Karena itu ia berharap, dari kegiatan ini bisa membangkitkan koperasi.

Ia juga berharap dengan gerakan koperasi bisa mendirikan bank koperasi.Selain itu juga berdiri industri industri, produksi yang dikelola oleh koperasi.

Perlu keberpihakan pemerintah

Sementara itu Ketua umum Ika Ikopin, Adri Istambul Lingga Gayo mengatakan koperasi sejak jaman reformasi seperti terabaikan, maka perlu direvitalisasi.

“Pak Jokowi perlu ada arah ke sana. Kita ingat pasal 33 UUD 45 adalah koperasi,” ujar Adri.

Adri juga menandaskan bahwa koperasi bukan lembaga sosial, tetapi sebagai entitas bisnis.

Ini yang selama ini masih terjadi di masyarkat, bahwa koperasi itu hanya mengelola simpan pinjam saja. Padahal koperasi adalah entitas bisnis.”Mindset masyarakat inilah yang perlu kita ubah,” ujar Adri.

Salah satu cara mengubah mindset masyarakat tersebut dengan melakukan pendidikan. Maka dia berharap Ikopin bisa dinegerikan. Sehingga nanti akan terbentuk kader- kader koperasi, enterpreneur, penggagas atau pengelola koperasi yang berkualitas.

Tentunya harus ada keperpihakan dari pemerintah. Untuk membangun lembaga bisnis yang profesional perlu didukung oleh pemerintah.

“Perlu political will dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” ujarnya.

Adri juga berharap di gedung PKKT ini harus jadi tempat yang monumental. Jangan hanya bangun tugu, tetapi harus dibangun juga museum. Jadi tempat latihan, dibangun outlet-outlet yang bisa menampung produk-produk koperasi.

Dengan begitu, nantinya bisa menarik orang untuk berbondong- bondong ke Tasikmaya untuk melihat museum koperasi. (Khabar Priangan, edisi 22 Juli 2018)